Kalau Udah Ketagihan, Pasti MAU LAGI…

Well, artikel ini akan saya mulai dengan sebuah pengakuan : saya pernah menonton American Pie (tentu saja saat zaman jahiliyah, he3). Saya cukup terkejut saat mendengar kemunculan film ini. Indonesian Pae, apa pula ini?

Untuk kepentingan tertentu, saya pun menonton trailer film ini (makasih buat yang udah ngasih…) Okelah, saya sudah 17+ sehingga seharusnya akan baik-baik saja bila saya menonton full-version film ini. Namun, di samping ketidakinginan saya untuk merogoh kocek… ada alasan ilmiah mengapa saya tidak akan menonton film ini…

Berikut ini kutipan suatu artikel yang saya temukan di http://www.youthnotoporn.com/psikologi.php. Ilmiah dan menggetarkan

Pernyataan Judith Reisman, pakar neuroscience, presiden Institut Edukasi Media, California AS

Kajian neuroscience membuktikan sebuah image yang menggetarkan emosi serupa gambar po*no memicu reaksi biokimia yang kuat pada otak. Reaksi ini bersifat instan namun meninggalkan jejak ingatan permanent pada memori. Sekali saja cairan zat kimia syaraf tercipta, ia akan sulit bahkan tidak mungkin dihapus … Ada semacam fenomena sabotase otak yang aneh, ketika image tertangkap mata meski hanya 3/10 detik dan tersambung ke otak, maka secara alami otak akan mengalami perubahan struktural lantas merekamnya menjadi memoriā€

Walah… padahal cuma 3/10 detik…

Fakta berikutnya : potret yang diambil melalui positron emission tomography (PET) memperlihatkan bahwa seseorang yang sedang menikmati gambar po*no mengalami proses kimia dalam otak sama dengan orang yang tengah menghisap kokain. Parahnya, dampak po*nografi ternyata lebih jahat ketimbang kokain. Pengaruh kokain dalam tubuh bisa dilenyapkan dengan detoksifikasi. Namun, materi po*nografi akan terus melekat dalam otak.

Dari artikel itu saja kalau dirangkum, paling tidak ada 9 dampak dari po*nografi…

  1. Ejak*lasi prematur atau disfungsi er*ksi dalam kehidupan s*ks nyata
  2. 40% pasien yang ketagihan po*nografi kehilangan pasangannya
  3. 58% pasien mengalami kerugian finansial
  4. 27-48% dipecat / keluar dari pekerjaannya
  5. Peningkatan ketidak sensitifan terhadap perempuan: cenderung menganggap perk*saan sebagai kejahatan ringan
  6. Persepsi menyimpang mengenai s*Ksualitas
  7. Peningkatan kebutuhan akan tipe-tipe po*nografi yang lebih keras dan menyimpang, seperti a*al inte*course , sodoma*ochism (hubungan s*ks yang melibatkan penyiksaan) dan merasa tidak bersalah meminta pasangannya melakukan hal-hal tersebut
  8. Kehilangan kepercayaan terhadap perkawinan sebagai lembaga yang layak
  9. Cenderung melihat hubungan di luar pernikahan sebagai perilaku normal dan alamiah

Bukan bermaksud menakut-nakuti… tapi artikel yang ini semakin membuat saya merinding… Argh…

Nah, film ini diklaim memiliki pesan moral berupa bahaya free s*ks “Nonton dulu deh filmnya baru kasih komentar lagi,” ungkap sang Sutradara saat berbincang dengan detikhot melalui telepon Jumat (25/4/2008).

Cerita dikit…

Film ini bergulir akibat sebuah pertanyaan, “gimana mau bikin film tentang free s*ks, kalau belum pernah ngelakuin free s*ks?”
Sejalan dengan itu, Thomas Nawilis mengungkapkan “gimana mau tahu pesan moralnya kalau belum pernah menonton?
Bila logika kita membenarkan kedua pertanyaan tersebut, dengan kaidah inferensi muncul sebuah pertanyaan baru, “gimana mau tahu akibat free s*ks kalau cuma menonton?

So, jangan sekedar nonton… Jadilah penentang po*nografi dan po*noaksi

16 Responses to this post.

  1. Hal-hal seperti ini memang selalu menimbulkan pro-kontra berkepanjangan yang tidak ada ujungnya.

    Tentang film…
    Film ini saya rasa kurang menarik, judulnya terlalu vulgar, bikin males. Apabila dikemas dengan cara ’santun’, saya rasa justru akan menimbulkan rasa penasaran.

    Bukankah manusia mempunyai sifat selalu ingin tahu?
    Selalu pengen menguak apa yang ditutup-tutupi.

    (saya sadar kalimat ini bisa diterjemahkan macam-macam, tapi di sini saya menekankan pada vulgaritas penyajian film tersebut)

    PS:
    kenapa ‘o’ pada ‘pornografi’ dikasih ‘*’, kurasa kata ini tidak termasuk sarkastik seperti pada objek-objeknya :D

    iya… manusia selalu pengen tahu… tp IMO : mending baca buku anatomi manusia daripada nonton beginian
    dikasih * soalnya kuatir kena cumi… (emang kena, y?)

    Reply

  2. wah, blogny mulai 17+ juga ni. banyak sensornya. he2.

    btw, bagus jg tuh penelitiannya. baru tau.

    Spakat lah, jaga pandangan jaga hati..

    sekali-kali ngebahas kan gpp… asal nggak sampe ketagihan :D

    Reply

  3. res, permainan kata-katanya menyeramkan yach…
    yang jelas, q gak mau nonton ah,…yg normal2 ajah….

    kata-kata yang mana, Lel? yang terakhir aq tulis?

    Reply

  4. Restya berhasil teracuni hohoho.. :D

    becanda..

    film MLemang sampah tenan..
    klo dibiarin, akan muncul lagi sekuel-sekuelnya yg aq yakin makin sampah aja (kek American Pie yang makin sampah dari waktu ke waktu)
    ketika sampah itu jadi kebiasaan, ya sudah, yakinlah angka aborsi akan semakin meningkat

    tentang pornografi..
    sampai detik ini, aku yakin masih banyak cowo yg menganggap pornografi sbg “rahasia umum”.. mereka berpikir bahwa film porno, gambar porno, dst = konsumsi yg wajar dan naluriah bagi seorg laki2 (tapi wajib sembunyi2)..
    mudah2an penjelasan ilmiah dari Restya bisa dipakai acuan untuk membuktikan bahwa : pornografi adalah penyimpangan, cara yg tidak sehat untuk menyalurkan potensi dari Allah swt.

    *jadi pengen bikin artikel tentg ini lagi, masa kalah vulgar sama Restya :) )

    hmhmhm, tapi klo penduduk Indonesia banyak yang kena PMS, lumayan juga buat pengurangan penduduk massal :P
    halah… malah mau nantang bikin artikel beginian… udah kalah juga

    Reply

  5. Wah, Restya ternyata up to date untuk hal yang kaya gini. Minta trailernya! (bercanda..). Nggak minat sih. Minta yang American Pie aja (bercanda juga..). Emang filmnya ky gimana? Entar kalau udah nonton ceritain,ya…

    Ivan… udah dbilang aq g bakal nonton juga. Ivan mau nonton?

    Reply

  6. Posted by armyalghifari on May 10, 2008 at 1:33 pm

    hohohoho….

    nampaknya mime tentang ML ini sudah menyebar ke seluruh kader gamais ya! Segera bergeraklah, teman! Tanggal 15 mei sudah dekat. film ini akan segera diputar di indonesia..

    Gesa dkk sudah roadshow sampai ke kementerian kominfo.

    hm, res, jangan-jangan di rileks sudah beredar tuh.. :D

    hoi…hoi… bergerak!!! btw, yang kemarin udah ada hasilnya? yang hobi ngerileks, liatin dunk…

    Reply

  7. OMG..american pie ??
    *anak – anak dilarng keras*

    remaja juga dilarang kelas…
    salam kenal

    Reply

  8. Posted by odingaminuddin on May 11, 2008 at 10:33 pm

    iya ya, gitu banget ya….hihh….. lantas?

    lantas biarkan saja… he2… mari kita bergerak!!!

    Reply

  9. kliatane mendingan nggak usah nonton deh…
    daripada makin penasaran…

    setuju…

    Reply

  10. wah… 17+ ya? account namekuh kudu ganti neh.. Ntar dikira….. :mrgreen:

    sok…diganti aja

    Reply

  11. [...] Ubah Rating “Dewasa” Menjadi “Menikah” — Sebuah Solusi Alternatif Film (sejenis) ML Bagiku, hal yang paling meresahkan atas tayangnya film ML (Mau Lagi) di bioskop adalah efeknya terhadap remaja-remaja “puber” yang menontonnya. Sebuah kenaifan menganggap film beradegan panas yang memompa adrenalin seperti itu sebagai “sex education”, malahan jauh lebih terlihat sebagai “sex campaign”. Apa jadinya bila kampanye seperti ini membekas, mengilhami, bahkan mendarah-daging di kalangan pemuda-pemudi kita? Aku rasa kita semua tau jawabannya. Ada juga pembahasan ilmiah yang bisa dibaca di blog ini. [...]

    wah… ada yang pingback

    Reply

  12. Walah2, tak ingin banyak berkomentar, karena belum mampu melakukan suatu tindak nyata terhadpa hal tersebut,. T_T

    wah, ada DC… komen jg tindak nyata, kn? he3…

    Reply

  13. pantesan kalo orang ngeres, makin lama makin ngeres, ya? = =a.
    .
    :nyangkut dari blog aisar:

    efek kecanduan kykny… perlu rehabilitasi

    Reply

  14. Ah…
    Untung saya bukan penggemar film
    *loh?*

    ho3… bersyukurlah klo gt…

    Reply

  15. bersyukurlah hai anak muda. perjuangan gesa dkk g sia2 sepertinya. ml gajadi tayang, mungkin diundur. judulnya juga diubah, lsf juga menyensor ulang felm ini. lebih banyak bagian yang di-cut. produserny ngaku rugi sampe 5-6 milyaran.

    wah, alhamdulillah… outstanding bwt Gesa, dkk…
    *hoi, Gesa… dkasih selamat, tuh…

    Reply

  16. Posted by ank_gha on May 19, 2008 at 9:01 pm

    loh kalo di cekal terang2an kayak gitu
    malah bisa bikin penasaran
    dicekal ya dicekal
    tapi jangan di publikasikan

    wah2, brarti klo mau nyekal…hrs blg ke media2 dulu “jangan dliput, ya…”

    Reply

Respond to this post