Saat cinta berpaling
dan hati menjadi serpihan-serpihan kecil
saat prahara terjadi
saat ujian demi ujian-Nya terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri
ke manakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati mampu terus bertasbih?
Judul Buku : Catatan Hati Seorang Istri
Pengarang : Asma Nadia
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Tebal : 220 halaman
Harga : Rp36.000
Saat googling mencari lirik lagu ‘Hijrah’-nya Asma Nadia, saya menemukan e-book dari buku ini (dari duniakata.net). Konon, buku best-seller ini cetak ulang dalam 2 minggu… Wow. Karena penasaran, saya membaca beberapa bagian buku ini dan jadi merinding sendiri. Glek…
Berisi dokumentasi kisah-kisah mengharukan dalam rumah tangga, buku ini benar-benar sesuai dengan salah satu kalimat dalam covernya “A heart-breaking story”. Ada cerita tentang KDRT,perceraian, perselingkuhan, poligami, sampai kisah suami yang meninggal. Gaya tutur Asma Nadia dalam buku ini sangat mengesankan dan menyentuh para wanita. Selama membaca buku ini, berkali-kali menarik napas panjang dan berpikir “ternyata sebuah pernikahan manusia sungguh berbeda dengan pernikahan dalam negeri dongeng… nggak selalu happily ever after”
Walaupun belum pernah mengalami pengalaman serupa… buku ini cukup memberi inspirasi bagi saya. Kalau dirangkum, ada beberapa poin yang saya dapatkan (sebagian besar masih berupa teori
)
1. Ternyata ayah saya ayah yang baik (hehe…). Nggak berlebihan siy. Ayah saya termasuk orang yang sabar dan hampir tidak pernah marah. Kalau ibu habis ngomel, seringkali ayah saya menyempatkan waktu untuk tilawah tambahan. Miss you, Dad!
2. Don’t judge a computer by its casing. Dalam buku ini ada kisah tentang wanita yang bersuamikan WNA. Dia bersyukur memperoleh suami yang tampan, padahal setelah menikah suaminya suka menganiaya T.T
3. Diperlukan sikap yang dewasa sehingga sebuah pasangan bisa saling mensyukuri satu sama lain… Selain itu tentunya diperlukan suatu visi bersama dalam sebuah pernikahan -kalau perlu, sekalian dirumuskan profil kader anak-anak- ^^
4. Sedalam apa pun cinta terhadap pasangan dan keluarga, cinta tersebut hendaknya cinta yang karena Allah. Jadi sewaktu-waktu kehilangan, kita akan sadar bahwa seseorang yang disayangi tersebut merupakan milik Allah. Kita juga nggak secara langsung kehilangan pegangan ketika ditinggalkan manusia karena meyakini bahwa Pencipta kita masih di dekat kita.
Yaps, semoga artikel ini tidak membuat pembaca ber-ehem-ehem ria tanpa mengambil esensinya…hehe. Semoga saya sendiri dapat mengingatnya suatu saat nanti…

Posted by petra on January 13, 2009 at 9:47 am
itu buku yg dibaca kemaren yah?
Posted by aisar on January 13, 2009 at 11:05 am
cie, udah kebanyakan ilmu ni kayaknya restya,
tinggal action!
Posted by ndrewh on January 13, 2009 at 11:56 am
ciee Restya…
)
tinggal action…
Posted by Mantoel Toeink on January 13, 2009 at 12:23 pm
Jgn lupa kasih tahu Difa, Res. Difa kan tertarik ama hal2 semacam ini.
Hehe.
Posted by Albaz on January 13, 2009 at 1:05 pm
@ aisar:
slamat sar. sepertinya ada yg menekuni bidang yg sama dgnmu. bisa jadi staf merahjambu DK-mu nih.
Posted by nass on January 13, 2009 at 4:24 pm
Ehem..ehem
..untuk menyusun suatu visi (dalam sebuah pernikahan).. tentunya dalam divisi PSDA HMIF ITB telah sering mengadakan diskusi bersama untuk mendiskusikan visi-misi suatu kegiatan..
langit cerah!
Posted by dwinanto on January 13, 2009 at 4:50 pm
Wew, ada yang menyebut-nyebut PSDA dan HMIF, mantap juga nih,.
Pernah awak berminat membeli buku ini (tapi bukan untuk dibaca sendiri, melainkan untuk kado),.
Posted by sayapbarat on January 13, 2009 at 10:49 pm
tenang.. kita masih dilndungi uleh UU kok..
makanya, sebelum nikah, kita pelajari UU Pernikahan Indonesia (walau aku gak sepenuhnya setuju dengan isinya walaupun sudah berkali2 direvisi). Jika dinilai masih kurang, kita punya payung hukum lain dalam KUHP. JIka dinilai asih juga kurang, dapat menggunakan perjanjian pranikah yang berisi ketentuan yang diajukan dalam pernikahan yang disepakati oleh kedu abelah pihak (yang tentunya harus sesuai dengan hukum yg berlaku di Indonesia).
Asal jangan takut nikah, Res.. gak ada yang benar2 tau paramete kesiapan dalam pernikahan, tapi bersiap-siap itu perlu…
(Menerima konsultasi pranikah)
Posted by nuRr.. on January 15, 2009 at 3:32 am
res.. udah ngambil esensinya ni..
boleh ehem-ehem??
ahahahahhaaa..
Posted by oRiDoâ„¢ on February 3, 2009 at 4:40 pm
dalam menjalali hidup berkeluarga, memang harus ada rasa saling memberi dan saling menerima..
klo tidak ada “saling” maka akan sulit utk bisa langgeng…
Posted by mhidayat88 on February 5, 2009 at 10:39 pm
oooo, bukunya memang bagus tuh, asik banget yaa ada ukhuah.
ini seorang ikhwan medan nih, boleh kan gabung dengan ikhwa Gamais ITB, salam dari LDK Al-Izzah IAIN Sumatera Utara
Posted by Dhimas L N ---- (^-^)v on February 18, 2009 at 3:03 pm
awak juga dah baca buku ntu. mangkanya bikin kriteria yg kompleks,, wahaha,,
@mhidayat
gawat,, anak ldk lain ga boleh teracuni beginian.. sholahnya harus dijaga,,
Posted by Dhimas L N ---- (^-^)v on February 18, 2009 at 10:25 pm
astaghfirullah hal adzim,,
ojo suudjon gitu donks,,, bahaya nih kalo dibaca yg lain,, haha
Posted by Cinta, Dua Hari Berturut-Turut « …and my name is SHA, not rei… on February 23, 2009 at 1:04 pm
[...] apa. Cuma tertarik karena pembicaranya ada Asma Nadia (aku juga tau Asma Nadia dari tulisan Restya di sini, dan udah baca buku yang itu). Trus ada Ghaida Tsurraya FI’06, anaknya Aa Gym (kalo ini siy [...]