Kucing dalam Logika

Assalammu’alaikum ^^
Kembali berbagi cerpen  hasil tugas apresiasi sastra, hehe 😀

—-

Dua ekor kucing itu sedang bermesraan menikmati sore ketika aku lewat di teras gedung kuliah. Aku tidak pernah mengusir mereka, tapi mereka tiba-tiba saja berhenti dan menatap ke arahku. Aku mengenali keduanya. Tadi pagi sewaktu aku lewat di seberang gedung ini, mereka juga sedang berduaan di dekat tempat sampah, membagi makanan mereka. Tanpa mendekat, aku berhasil mengintip lewat ekor mereka : satu dari mereka jantan dan satu lagi betina. Dua-duanya berbulu putih dengan garis-garis coklat muda. Mereka mirip, seperti saudara saja.

Ah, aku harusnya tidak perlu memperhatikan mereka. Mustinya aku langsung pulang dan mengerjakan tugas-tugas kuliah yang berjibun. Tapi entah mengapa kedua kucing itu sungguh menarik. Sungguh, aku sering melihat sejoli-sejoli kucing bermesraan di tempat-tempat umum di kota ini. Mulai dari depan mall sampai di depan masjid. Sejoli-sejoli kucing di kota ini biasanya tidak peduli dilihat oleh manusia. Mereka biasanya terus saja bermesraan hingga tak sedikit yang tertangkap oleh kamera. Tapi, astaga, kedua kucing yang ada di hadapanku ini langsung mengambil jarak beberapa senti karena aku datang. Mungkin mereka kucing pindahan karena setahuku kucing-kucing lokal kota ini suka tidak tahu malu.

“Sudah teruskan saja. Kalian cocok”, ujarku pelan sambil melangkah maju. Yang jantan terus menerus menatap ke arahku, sementara yang betina mulai menjilat-jilati kakinya sendiri. Aku menduga keduanya jinak. Karena itu, aku mendekat dan merunduk untuk mengelus mereka.

Saat tanganku hampir menyentuh si jantan, tiba-tiba ia mengeong keras sambil menampakkan gigi-giginya. Aku kaget dan langsung mundur. Dari arah kananku, muncul lagi seekor kucing berwarna hitam dengan tutul-tutul coklat. Kucing baru itu kucing jantan yang kuduga galak. Gemuk dengan bulu-bulu yang berantakan.

 “Meooooong…Meoooong…”, kucing hitam berteriak dengan garang. Sejoli kucing putih-coklat itu langsung lari dan kucing hitam itu ikut mengejar. Aku penasaran, maka  ikuti saja mereka.

Mereka bertiga berhenti di belakang gedung kuliah. Karena tidak ingin mengganggu, aku mengamati dari jauh. Ah, aku sebal pada diriku sendiri. Seharusnya aku pulang dan tidak mengikuti melodrama kucing-kucin ini. Aku harus mengerjakan tugas-tugas lain. Tapi sungguh, aku penasaran.

Kucing jantan putih coklat berbaring lemas setelah berlari. Sementara itu, kucing jantan hitam terus mendekati keduanya. Terjadi percakapan antara kedua jantan yang tentu saja tidak dapat aku mengerti. Kucing jantan hitam lalu bergerak meninggalkan keduanya. Baguslah, saatnya pulang, pikirku. Tapi nyatanya aku terpaku di tempatku berdiri ketika aku melihat si betina dengan langkah lemas mengikuti kucing jantan hitam. Sementara kucing jantan putih-coklat diam saja, tidak berusaha mencegah si betina.

Hah? Aku menganga sambil memandang jantan putih-coklat lekat-lekat. Aku biarkan jantan hitam dan betina sudah pergi dari pandanganku. Aku lebih tertarik pada jantan putih-coklat yang kini berbaring lemas.

Perlahan, aku mendekati jantan putih-coklat lalu menyentuh tubuhnya. Dia tidak melawan ketika aku mengelusnya.

“Meong…”, ucapnya pelan,  mungkin dengan kesedihan. Aku menghela nafas dalam-dalam. “Kenapa kau biarkan betinamu pergi, kucing?” tanyaku. “Meong..”, hanya itu jawaban yang kuterima dan tentu saja aku tidak mengerti artinya.

Aku menolehkan wajahku sekedar memastikan kampus sudah cukup sepi dan tidak ada orang yang melihatku sedang mengajak kucing berbicara. Ok, aman, pikirku. Walau sebagian dari diriku terus saja memaksa sebagian dari diriku yang lain untuk cepat pulang.

 Aku tahu dengan logikaku aku tidak mungkin memahami seekor kucing. Orang-orang yang berbicara dengan bahasa yang sama saja masih sulit untuk saling memahami. Apalagi aku dan kucing yang jelas-jelas berbicara dalam bahasa yang berbeda. Logikanya, aku tidak akan pernah memahami kucing itu. Logikanya, lebih baik aku pulang dan mengerjakan tugas untuk esok hari. Tapi tampaknya manusia kadang tidak dikendalikan oleh logika yang logis, aku mulai berhipotesis. Padahal manusia suka manusia memuliakan logika-logikanya. Sebab logika itulah yang konon membedakan manusia beberapa derajat dibandingkan dengan makhluk lainnya, katanya.

Kucing itu kini melingkar di pangkuanku. Aku mengelus bulu-bulunya yang halus sambil terus mempertanyakan logika apa yang membuatku tetap duduk sambil mengelus kucing, sementara aku tahu bahwa tugas-tugas yang harus dikumpulkan besok pagi belum aku kerjakan sama sekali. Logika apa pula yang membuat manusia menangis dan tertawa bahkan untuk sesuatu hal yang tidak menimpanya. Logika apa, misalnya, yang membuat ibu menangis saat aku jatuh dari sepeda, sementara aku tidak merasa sakit. Selama aku bersekolah, tidak ada guru yang mengajarkanku tentang logika yang tidak logis begini. Kurasa, dari lembaran kartu rencana studi, tidak ada mata kuliah yang akan mengajariku logika yang tidak logis itu semester ini. Mungkin semester depan aku akan mencari mata kuliah itu, kalau ada aku akan mengambilnya.

“Meong..”, kucing itu bergerak-gerak dalam pangkuanku lalu berbaring di sisi tubuhnya yang lain. Aku memandangnya sambil mengelus bulu-bulunya. Saat itu, aku melihat bahwa perutnya terluka. Luka itu sudah kering sekarang, tapi masih tampak jelas karena tidak ada bulu yang tumbuh di tempat luka itu. Kasian sekali. Mungkin karena luka ini, ia dianggap tidak sempurna, lalu betinanya kabur karena ada jantan lain yang lebih gagah. Memang logis kalau kucing selalu ingin yang lebih baik dari yang telah dimilikinya. Mungkin, manusia juga begitu. Seperti yang pernah ditayangkan di televisi dan koran-koran : seorang ibu kabur dari rumah dengan meninggalkan suami dan anak-anaknya. Lalu apakah logika kucing sama dengan logika manusia? Aku mulai menduga-duga.

Baiklah, jika logika kucing sama dengan logika manusia, seharusnya nenek sudah kabur dengan pria lain ketika kakek sakit parah dan kehilangan pekerjaan. Toh waktu itu nenek adalah kembang desa dan masih cukup muda. Tapi tampaknya hipotesisku benar, bahwa manusia kadang tidak dikendalikan oleh logika yang logis. Lalu adakah logika yang tidak logis? Atau sesuatu yang tidak logis tapi sering mengendalikan diri manusia itu bukan bernama logika?

“Meong..”, kucing itu kembali bersuara lalu turun dari pangkuanku. Kulihat ia berjalan menjauh perlahan. Sepertinya dia sedang berjalan pulang dan sepertinya aku juga harus pulang.

Advertisements

4 thoughts on “Kucing dalam Logika

  1. Restyaaaa, ini ceritanya unik banget. Kirain di awal, kata ‘kucing’ itu bersifat menggantikan kata yang lain. Eh, ternyata memang kucing secara harafiah. Hihihi

    ‘Lalu apakah logika kucing sama dengan logika manusia?’ –> wuaduh, jangan sampai logika kita yang katanya makhluk paling berakal ini sama dengan kucing yang biasanya ‘bermesraan di tempat-tempat umum di kota ini. Mulai dari depan mall sampai di depan masjid.’

    Oke, terus menulis ya Restya. Kapan-kapan aku main lagi ke blog Restya 😀

  2. huuuufffffff
    sungguh cerita yang amat sangat aneh……
    judul nya se blh z tp cerita nya??????????????…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s